Hello

Minggu, 08 Agustus 2010

Cintaku pada Hujan


Seseorang menyanjung puisiku, katanya puisiku indah tentang hujan. Namun katanya lagi, sayangnya dia adalah orang yang sangat membenci hujan. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang tentang hujan, yang pastinya mereka tentu mempunyai tanggapan masing-masing tentang hujan. Seperti manusia yang mengumpat hadirnya karena merasa dirugikan. Katanya dia terlambat bekerja, katanya dia terlambat memenuhi janji dengan seseorang, katanya dia harus menunda rencana yang sudah terancang matang, dan masih banyak lagi katanya katanya versi lainnya yang ujung-ujungnya mengatakan karena hujan. Tapi aku selalu merasa tenang saat hujan itu turun. Apalagi bila hujan mengawali hadirnya dengan gerimis, hummm.. indahnya. Bagiku hujan itu anugerah Tuhan, walau kadang kaki ini harus berlari gesit dan cepat mengambil pakaian yang dijemur karena turunnya hujan dadakan. Bahkan aku selalu merasa bisa berkomunikasi dengan seseorang yang aku rindukan di saat hujan. Ada lagi yang bilang kalau hujan itu bising, gaduh. Tapi aku senang mengamati berisiknya lewat telingaku. Aku malah lebih tertarik untuk duduk di samping jendela kamar hanya untuk sebatas menikmati hujan daripada bergelayutan di atas kasur sambil memeluk guling. Lebih menyenangkan lagi apabila aku menikmati hujan dengan orang-orang yang kucintai berada di sampingku. Mungkin ada cintaku yang tersimpan dalam hujan. Namun kadang air mataku malah menetes saat hujan turun. Hujan adalah detik-detik di mana aku leluasa memikirkannya tanpa disengaja. Dia orang yang sangat kucintai dan tak akan pernah bisa terganti. Karena dia yang mengenalkanku pada hujan. Jujur, dulu aku sangat takut dengan hujan. Aku takut langitnya yang muram yang seolah-olah memelototiku ingin segera menerkamku. Aku takut pabila tetes-tetes hujan itu menyentuh kepalaku lalu merusak poniku ataupun kuncirku. Tapi dengan cintanya dia ajarkan aku bahwa hujan itu sebuah kebersamaan. Ketika seluruh orang-orang yang kau cintai berada dalam satu tempat, tak bisa pergi kemana-mana. Ketika kesibukan padat mereka terhenti tanpa tapi. Di sanalah kumulai merenungi apa arti hujan yang sesungguhnya. Dia juga ajarkan aku kehangatan saat hujan. Dia selimuti tubuhku dengan jaketnya walau dia sendiri kehujanan. Dia berikan aku kain untuk menutupi kepalaku. Katanya agar aku tidak perlu lagi khawatir dandanan rambutku rusak saat hujan turun dan aku bisa berlari menembus hujan dengan tawa riang juga wajah sumringah di antara butir-butir bening air hujan. Kini aku tahu, bahwa kain itu namanya “Kerudung”. Dan aku pun telah mengerti makna sesungguhnya dari “Kerudung” yang dulu kukira dia berikan, gunanya hanya untuk melindungi maluku bila dandanan rambutku agak berantakan. Banyak pelajaran dan pengalaman yang kuperoleh dari hujan, dari kebersamaan, kehangatan, senyum, tawa, bahagia hingga kewajiban berhijab sebagai wanita muslimah. Cintanya terlalu membekas dalam hatiku. Sungguh, betapa harumnya cinta darinya. Hingga sampai saat ini wanginya masih tercium dan hangatnya masih kurasa. Kendati raganya telah tiada. Kau tahu siapa dia yang kumaksud di sini?! Dia adalah kekasih hatiku. Namun bukan seorang kekasih yang sering kau kenal dengan sebutan “Pacar” walau dia kekasihku. Aku yakin kau pun pasti memiliki orang seperti dia. Orang yang berjasa besar menempa jiwamu hingga kau tiada nanti. Dialah kekasih hatiku yang kusebut “Ayah”, yang kini telah bersama Allah.
Kini tak dapat lagi kunikmati hujan bersamanya. Tak dapat lagi kusapa riak hujan dengannya. Tak ada lagi yang bisa menghalau kepergian orang-orang yang kau cintai saat waktunya tiba. Tidak aku, tidak kau, tidak pula dengan hujan. Semua kenangan tentangnya terjaring kuat dalam hujan. Saat kutulis ini pun, hujan juga mengambil perannya sebagai topik pengantar kerinduanku pada ayahku. Hujan.. rinainya selalu saja membayang cintanya di hati.

2 komentar: