Hello

Kamis, 23 Desember 2010

RS Damanhuri Barabai,13 Desember 2010 12:00 WITA

Rabu, 22//12/2010 4:18 PM
Sampai kini pun ku masih belum merasa bahwa kau telah tiada
Aku seperti tak kehilangan
Padahal semakin aku berpikir begini
Semakin lukalah hati ini
Karena kenyataan tak sesuai dengan apa yang dipikirkan
Kenyataannya kau telah tiada
Kau telah menjadi bintang di langit nun jauh di sana
Namun entah mengapa suara dan ocehan-ocehanmu masih saja terngiang ranum di telingaku
Aku tetap tidak bisa menetralkan perasaan ini
Kurasa aku telah gila
Nyatanya kau telah bersamaNYA
Aku malah terus merasa bahwa kau masih ada di dunia ini
Aku berkata bahwa aku sadar kau telah tiada
Namun hati kecilku selalu bilang bahwa kau masih ada
Bisikan hati apa ini?!
Lama-lama membuatku berpikir aneh saja
Kataku aku menerimanya..
Iya, aku menerima hal ini
Namun yaa entahlah aku masih berpikir begini
***
“Aku memujimu hingga jauh
Terdengar syahdu ke angkasa
Rintihan hatiku memanggilmu
Dapatkah kau dengar, nyawa hidupku..?!”

Senin, 13 Desember 2010

;Without U;

Today's 1st day I'll breathe without U.. N it would be continued till 2 weeks later. U 4get me in your huge busy. It's shocked in me a little bit. I have 2 live as if I never know U. Now, only be able to take a long breath N close the eyes tighty. I realized this before all happened. (~_~)

Jumat, 03 Desember 2010

Uneg-uneg 4th Sept' 2010 (Ge,Je,eS deh yaaa?! Xixi)


Apa bagusnya berdua denganmu? Apa hebatnya berteman denganmu? Jangan-jangan aku jadi bualan mentari sore kalau ketahuan ada bersama denganmu. Ah... Semuanya semakin runyam saja antara level percaya & benci sudah biasa. Meratapi kegelisahan ini bertubi-tubi hanya akan membuatku gelap memandangmu. Mana aku mau dengan kamu yang jago nipu. Mana aku kepincut dengan kamu yang pengecut. Dikit-dikit kau potong nadiku. Sebentar-sebentar kau kuras air mataku. Cinta macam apa yang kau tawarkan padaku? Apa mungkin cinta sambel terasi? Ataukah cinta cukup berasa cuma di huruf c? Dasar saraf kamu, sayang. Enak saja mau memiliki cipratan cinta sang bidadari. Kamu tak tahu malu. Beraninya merayu gadis lugu. Aku jadi muak dibuatmu. Diberi sedikit, dibuang banyak. Kefasikanmu terlalu menjijikkanku. Harusnya kau gantung saja kebiadaban nuranimu itu di lehermu. Biar semua orang tahu, hati iblismu terselimuti wajah malaikatmu. Mau menangis mendengarku bicara begini?! Let U cry. Silakan, sayang.. SILAKAN! Tak ada larangan kok si perompak menangis. Toh semua air mata rasanya sama. Hanya untuk menutupi luka. Kamu itu tak lebih dari bom rakitan jepang. Bisanya cuman ngancurin hidup orang. Kuberitahu ya? Kalau mau cari mangsa itu di tempat favorit kamu aja. Di sini kagak ngaruh. Ketahuan gini kan jadinya malu?! O.I.A, kalau ingat ucapanmu yang 'WAH' manisnya, kok gusiku jadi nyeri ya? Apa tak salah resep ne?! Kebablasan amir gulanya he,eh? Huh.. Dasar "KALONG JALANG"! Aku benci kamu dari ujung langit sampai ujung tanah.

Rabu, 01 Desember 2010

Ketika Akhwat jatuh Cinta

Akhwat Jatuh Cinta??

Tak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia...

Bukankah cinta adalah fitrah manusia???

Tak pantaskah akhwat jatuh cinta???

Mereka juga punya hati dan rasa...



Tapi tahukah kalian betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya??? Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada...



Namun sebaliknya...



Ketika Akhwat Jatuh Cinta...



Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap... Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya, yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi...



Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya, yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sbuah asa yang tak semestinya…



Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu… Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cinta-Nya yang ternodai… Yang ada adalah kegelisahan, karena rasa yang salah arah… Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit…



Ketika Akhwat Jatuh Cinta…



Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan, tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut…



Tak ada kata-kata cinta dan rayuan…



Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat, akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya…



Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh…



Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya… Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan....



Alangka kasihannya jika akhwat jatuh cinta… Karena yang ada adalah penderitaan…



Tapi ukhti… Bersabarlah… Jadikan ini ujian dari Rabbmu…



Matikan rasa itu secepatnya…

Pasang tembok pembatas antara kau dan dia…

Pasang duri dalam hatimu, agar rasa itu tak tumbuh bersemai…

Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang sempat tersingkap...



Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah hanya padaNya…

Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu…



Ukhti… Jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya…

Karena bila memang kalian ditakdirkan bersama, maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu…



Tapi ketahuilah, bagaimana pun usaha kalian untuk bersatu, jika Allah tak menghendakinya, maka tak akan pernah kalian bersatu…



Ukhti… Bersabarlah… Biarkan Allah yang mengaturnya...

Maka yakinlah... Semuanya akan baik-baik saja…



Semua Akan Indah Pada Waktunya…


@Catatan RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Cerpen: GERIMIS

GERIMIS
Dia diam. Hanya badannya yang bersandar di tembok sesekali terguncang pelan. Ada danau menggenangi matanya. Ya, dia menangis diam-diam.
Sudah hampir dua jam aku merayunya berbicara. Namun, seberapa kalimat yang meluncur dari bibirku, selama itu pula ia memilih tak berbicara.
jujur aku bingung. Bibir mungilnya yag terbiasa ramai oleh bunyi kini terbungkam rapat tanpa suara. “Berceritalah..!” pintaku. Tetap tak tersahuti.
“Katakan di pucuk pohon mana kau menginginkan kita bercinta?” tanyaku menggodanya.
Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.
Dia masih saja diam.
Sementara di luar, gerimis mulai turun. Sesekali tempias airnya masuk melewati lubang jendela kamarku yang tak tertutup rapat.
Kulirik jam dinding, sudah pukul 17.13 WIB. Beberapa jam sudah berlalu sejak ia datang dalam diam. Aku sudah mulai kelelahan merayunya berbicara. Aku pun sudah hampir kehilangan kalimat-kalimatku sendiri. Aku mulai…
tiba-tiba saja dia berbicara “Aku hamil…tidak denganmu. tapi orang lain”
di luar masih saja gerimis..
***
Sebuah pesan singkat tiba2 muncul dalam inbox HP-ku.

"Kutunggu di taman yang dulu, jam lima sore ini. Salam. Alana"

Aku masih tak percaya. Kuulangi sekali lagi membacanya. Masih sama. Tak ada satu pun huruf yang berubah.

Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan teknologi aku mencoba mengamankan perasaanku dengan berusaha tak percaya.

Bagaimana mungkin Alana tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupanku.

Telah delapan tahun aku mencoba mengubur segala ingatan tentangnya.

Let the dead is dead. Yang mati biarlah mati.

Aku berusaha kembali menekuri pekerjaanku yang nyaris terancam deadline. Tinggal satu halaman saja, maka aku bisa menyetorkannya pada redaktur sore ini juga.

Tak terlampau susah buatku untuk menyelesaikannya. Semua sudah ada di kepala.

Sedetik, dua detik, semenit, merambat satu jam.

Tanganku tiba-tiba terasa tak bisa bergerak. Dua puluh enam simbol alphabet ditambah 10 angka dan ikon-ikon lain dalam tuts keyboardku seolah hilang arti.

Bahkan tiba-tiba 17 inch layar monitor di depanku langsung menjelma dirinya. A L A N A...Ah, pesan yang dikirimnya sore ini tak kusadar telah mendera batin.

Ingatan kembali tentangnya kurasa bagai pukulan emosional yang nyaris tak terlawan.

Mungkin seperti ini rasanya ketika Superman bertemu hijau batu krypton?Arrgghh...mengapa aku masih saja seperti ini.Alana adalah kosong.

Nama dan bayangannya telah kubunuh bertahun-tahun lalu.

Aku memang telah memaafkan segala pengkhianatannya. Walau sangat berat aku berusaha menaruh egoku di koordinat terbawah waktu itu.

Ia hamil dengan orang lain. Ia tak pernah mau pernah mau bercerita siapa lelaki itu. Bahkan, sampai akhirnya ia pergi menghilang aku tetap tak mampu marah.

Pergilah dengan semua cinta yang kau punya. Biarkan aku berjalan semampunya dengan mengumpulkan sisa-sisa patahannya. Getirku sudah lenyap.

Sebab, kegetiran yang bertumpuk-tumpuk tak akan terasa lagi sebagai kegetiran. Ia hanya akan menjadi rasa yang biasa.Sudah jam lima lebih lima menit. Jika harus datang menemui Alana sore ini aku telah terlambat. Aku tak peduli. Ruang dan waktu hanyalah buatan manusia. Sementara rasaku adalah adikarya Tuhan yang bahkan tak diberikan-Nya kepada malaikat sekalipun.Tak sampai sepuluh menit aku telah tiba di taman.

Taman akasia tempat kami dulu sering menghabiskan hari. Aku berjalan menuju bangku kosong di bawah pohon akasia terbesar di pojok kiri taman. Tempat duduk favorit kami.

Aku duduk sendirian. Alana belum datang.

Alana bukan lagi kosong.

Sore ini ia berubah wujud menjadi teka-teki silang buatku.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa jawaban.

Apa kabarnya?

Apakah yang diinginkannya dariku sore ini?

Masih kah wajahnya yang tirus membius itu mampu memompa adrenalinku?

Entahlah...Sedetik, dua detik, semenit merambat satu jam.

Alana belum juga datang.satu jam, dua jam, tiga jam. Alana belum juga hadir melegakan penantianku.

Gerimis mulai turun menemani malam yang semakin menua.

Sudah lima jam aku menunggu di bangku taman ini.

Sendiri.Akhirnya aku berdiri.

Berjalan menerobos gerimis.

Meninggalkan kosong, menuju pasti.Walau malam gerimis...
Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku pelan.

“Mari kita pulang. Biarkan dia istirahat dengan tenang”.

Aku menoleh, lalu mengangguk.

“Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Tapi, sudahlah. Dia telah memilih jalannya sendiri,” ujar ayah Alana sambil tetap memegangi pundakku.

Aku berdiri, kemudian mengiringinya meninggalkan pekuburan tempat Alana baru saja ditanam.

Belum genap lima meter berjalan memunggungi kuburan, aku sudah diburu rindu. Kusempatkan lagi menengok gundukan tanah basah tempatnya menjalani tidur panjang tanpa mimpi.

Tiba-tiba saja aroma kamboja meruap. Lembut.

Dalam sedetik seluruh pekuburan menjelma putih kapas.Aku tergeragap. Ah, malaikat memang tak pernah mau hadir terlambat. Ia selalu datang dan beruluk salam pada penghuni baru, tepat setelah langkah ketujuh pelayat terakhir meninggalkan makam


-----------------------------------------------


Daun-daun akasia yang berwarna kuning banyak berjatuhan.

Ia seolah mengabarkan kelelahan bertahan menghadapi kemarau yang membakar dan tak putus-putus.

Senja ini aku duduk sendiri di bangku taman akasia.

Satu demi satu kubuka tiap lembar halaman buku harian Alana.

“Sebelum masuk rumah sakit jiwa Alana tak sekecap pun mau berbicara. Dia hanya menulis. Rupanya ada banyak hal yang ingin disampaikannya kepadamu. Ambillah! Kamu lebih berhak untuk menyimpannya,” ujar mama Alana ketika aku mampir ke rumahnya seusai pemakaman.

Membaca buku harian Alana membuat kesedihan tumpah ruah.


7 Desember 2004 (malam jahanam)
Tuhaaaaan!!!!!! Takdir macam apa ini?????KAU biarkan bajingan bajingan itu mengobrak-abrik kehormatanku, menindas kemanusiaanku. Apa salahku????? Bukankah KAU yang berkehendak menjadikanku perempuan???? Kenapa KAU relakan orang-orang itu melecehkan martabat yang sudah kujunjung tinggi-tinggi???? Aku benci KAU Tuhan. Aku benci Tuhan yang telah membiarkanku diperkosa.


30 Desember 2004
Lihat, lihatlah...aku mual-mual tanpa ampun. Jangan...Jangan sampai aku hamil oleh benih para jahanam itu. Tolong Tuhan, sekali ini saja dengar dan kabulkan permintaanku!


31 Desember 2004
Fucking Pregnant...!!!!!!!!!!


1 Januari 2005
Resolusi awal tahun: Bunuh Diri


7 Januari 2005
Menatap mata teduhmu sore tadi membuatku luluh lantak. Mengingat caramu merayuku berbicara seperti menahan rasa perih sebab tertikam tepat di ulu hati. Aku mencintaimu. Sebab itu kalimatku tak pernah sampai. Aku tak pernah tega mengabarimu yang sebenarnya. Aku ingin kau membenciku. Karena itu bisa mengeruk perasaan bersalahku yang bergunung-gunung kepadamu. Aku ingin kau membenciku, seperti aku membenci takdir yang berjalan buruk.


8 Januari 2005
Aku masih mencintai gerimis, dan membenci badai.


13 Januari 2005
Virginia Wolf membunuh dirinya sendiri dengan mencebur ke dalam sungai. Hitler tewas setelah menembak kepala sendiri di lubang persembunyiannya. Cak Sakib tetangga sebelah rumah mati dikeroyok massa karena dituduh dukun santet. Ustadz Rojil mengembuskan penghujung nafasnya saat sujud salat di musala rumahnya. Adakah bedanya bagiku? Tidak ada! Kematian sesungguhnya peristiwa biasa. Kecuali ia menimpa orang-orang dekat kita.


18 Januari 2005
Janin dalam rahimku tumbuh bersama kebencianku pada hidup.


21 April 2005 (Saat aku ragu apa gunanya menjadi perempuan)
Ini hari kartini. Sudah seminggu aku tergolek di rumah sakit, Mama memergoki dan menggagalkan usahaku bunuh diri. Aku tetap hidup, tapi janinku mati.


18 Agustus 2005
Lucu. orang-orang menganggapku mulai gila. Padahal, sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya muak pada garis dunia yang tidak berpihak kepadaku.


19 Maret 2007
Dear Ma.Li.K.
Tiba-tiba aku kangen kamu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Aku ingin kita bertemu di taman yang dulu,tapi tak bisa. Mungkin juga sudah tak perlu. Tahukah kau betapa sakitnya terpuruk pada keinginan yang tak sampai. Aku menyintaimu lebih dari sekedar yang bisa aku lakukan.
Alana.


21 Mei 2008
Hari ini aku masuk rumah sakit jiwa. Bukankah itu artinya aku sudah benar-benar gila??!!! Hahahahaha. Sungguh aneh orang-orang itu. Kamu percaya bahwa aku tidak gila kan?


28 Oktober 2008
Bisa jadi cinta memang buta, tapi kita tidak. Aku ingin memilihmu menjadi pengantinku di surga nanti. Kamu mau?


1 November 2008

Hari ini aku ulang tahun. Sejak pagi tadi aku sudah mandi.

Perawat rumah sakit memujiku cantik.

Iya, aku memang sengaja berdandan paling cantik hari ini.

Bukan untuk meniup lilin ulang tahun, tapi untuk pulang menuju Tuhan.

Dua hari lalu aku sudah berhasil mendapatkan arsenik yang kupesan pada tukang es cendol yang biasa mangkal di luar zaal rumah sakit jiwa.

Aku yakin racun itu akan menjadi menara Babel yang undakannya bisa mengantarku ke surga.Dunia, selamat tinggal.





Kututup buku harian Alana. Kurapalkan doa buatnya.

Lalu, kutinggalkan bangku taman akasia bersama gerimis yang tiba-tiba datang bersama semerbak kamboja.

Selamat sore Alana...


http://tentang.net/