Hello

Senin, 28 November 2011

BACK TO MEMORY 1432 H

Back to 1432 H ->

“De, nanti belikan kakak bantal bola ya?”

“Jleb”, hatiku bergumam. Rasanya ada yang aneh, kok tiba-tiba kakakku minta barang seperti itu kepadaku?!

“Yang gimana sih kak maksudnya?”, aku coba mencari sebuah penjelasan yang menurutku agak tidak biasa dari permintaan kakakku kali ini. Karena memang kakakku tak pernah seperti itu sebelumnya.

“Yang kayak punya Naimah itu lho, Len?”, perjelasnya.
“Kayak gimana sih?”, aku tetap pada kebingunganku yang membuatku terlihat oon.

“Sejenis boneka, tapi bentuknya bola”, dengan lebih detil dia memberitahuku.

Berpikir..
“Oooooooooooh, ituuu??? Ya, ya, ya, aku sudah tahu.
Berapa sih harganya kira-kira, kak?”, masiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih saja menanyai harga atas sesuatu yang membingungkan. Memang aku tak pernah mau rugi.

“Murah kok. Aku maunya yang kecil aja. Biar nanti bisa aku bawa kemana-mana”, jawabnya.

“Lha kok? Buat apa, kak?”. Bingung. Lagi-lagi aku bingung. Emang udah bawaan dari sononya aku begini.

“Untuk aku tiduran saja”, jawabnya singkat.


Sebulan kemudian..

“Len, bolaku mana?”

Dengan wajah sok gak tahu apa-apa, aku pun bertanya seolah pangling,
“Bola apaan?”

“Yang kayak punya Naimah”, ujarnya.

“Wah, maaf, kak.. Kemarin kau belum sempat jalan-jalan. Jadwal kuliahku padat banget”, kucoba mengajukan sebuah alasan.

“Oh, ya udah. Tapi ntar jangan nggak dibelikan ya?”, dia mengingatkan.

“Uangnya mana?”, kupasang lagi dengan wajah memelas sambil menadahkan tangan.
Sebenarnya aku bercanda. Tapi kalau dikasih ya aku ambil. He

“Pakai uang kamu aja dulu”, sambil beranjak meninggalkan ruang tengah.

“OK deh”, jawabku tak serius.


Bulan selanjutnya..


“Bolaku ada?”, menatap dengan mata dan bertanya dengan suara penuh harap.

“Ada. Tapi gak akau bawain. Susah. Barang yang aku bawa banyak”. Aku coba mengelak. Padahal bolanya memang aku belum beliin. Bukannya aku gak cariin sih ya? Tapi aku mencarinya dengan memang tak ada niat, sehingga belum dapat juga.

“Padahal kan cuma kecil?”

“Sorry banget, kak.. Bulan depan pasti aku bawain. Suer!”, aku meminta maaf dengan telunjuk dan jari tengahku kubentuk menjadi huruf V. Sok minta dikasihani lagi deh. Padahal aku paling benci dikasihani orang. Tapi memang watakku yang manja yang membuatku begini.


Bulan ketiga
Akhirnya kubeli juga sebuah bola yang berwarna putih dan merah muda. Gak enak terus-terusan ditagih sama Sang Putri, panggilanku untuk kakakku yang kadang membuatku jengkel karena sering menyuruhku ini itu yang kadang menurutku terlalu merepotkan. Padahal kalau segalanya dijalani dengan ringan tangan, keikhlasan dan sebuah senyuman, semuanya tentulah tak ada yang terasa berat.

“Ini bolaku, kan?”, tanyanya yakin dan dengan wajah innocent.

“Kata siapa? Itu bola aku kok?”, kucoba menggodanya dengan tidak mengiyakan.

“Pokoknya aku bawa!”, kukuhnya.

“Eitsssssss! Mamaaaaaaaaaaaa bola aku mau dibawa kakaaaaaaaakkk”, berlagak teraniaya dengan meringis-ringis minta bantuan. Manjaku kumat. Kalau dalam keluarga aku mungkin memang yang termanja. Bukan mungkin, tapi memang iya :D

“Jumi, kasih balik ke adikmu dong bolanya”, seru mama dari dapur sembari mendekati kami berduayang berada di ruang tengah.

“Nggak mau. Ini punya aku”, kakakku juga ikut-ikutan manja.

Aku hanya tersenyum bingung melihat pongah kakakku.
“Ah, mungkin dia ketularan manjaku saja”, pikirku saat itu. “Iya, mama. Itu sebenarnya punya kakak. Hihiii..”, aku menyengir dalam kebingungan.
“Kok gedean sih, Len?”, seperti protes.

“Jiah, kubelikan juga syukur”, ujarku.

“Gimana ini mau aku masukin ke dalam tas?”, dia berujar sendiri.

“Insya Allah muat. Toh, tas kakak juga gede. Lagian bolanya elastis juga kok”, sahutku.

In memoriam:
Ternyata apa yang kuberi pun belum pas dengan permintaan kakakku. Walaupun harganya lebih mahal dan warnanya sesuai dengan warna favoritnya. Ini membuatku berpikir bahwa harga yang mahal tak menjamin nilai.
Harusnya aku bisa lebih mengerti akan keadaan itu, saat tiba-tiba kurasa ada kejanggalan dari permintaan kakakku yang selama 19 tahun aku hidup dengannya namun tak pernah meminta seperti itu. Harusnya aku sadar bahwa itu pertanda aku tak akan lama bisa lagi hidup bersamanya seperti hari-hari biasanya. Harusnya aku bisa lebih menghargai arti kebersamaan. Semuanya terasa perih saat kulihat dia, kakak yang kucintai tergeletak lemah tak berdaya mengidap sebuah penyakit yang tak terdeteksi jelas.
Bahkan dengan brengseknya aku masih saja memikirkan jadwal UTS kuliahku yang akan digelar besok. Sebegitu egoisnya kah aku kepada orang-orang yang benar-benar nyata mencintaiku?

Namun semuanya tak berarti bila hanya untuk disesali. Aku selalu berusaha berpikir positif dalam hal ini, “Mungkin saja Allah SWT lebih menyayangi kakakku yang baik hati ini sehingga dia tak layak untuk berada di dunia yang makin fasik ini lebih lama”, entahlah.. Yang sekarang selalu aku coba, coba, dan terus mencoba hanyalah berpikir posiitif. Karena kutahu tak adayang lebih mengetahui selain Allah SWT.
Aku juga terus berusaha menghargai sekecil apapun pemberian orang lain kepadaku. Karena semuanya tak ada yang diberikan tanpa sebuah usaha.
NOTE: Ini sebenarnya bukan sebuah penyesalan, tapi selebihnya sebentuk kesadaran untuk lebih bisa lagi mengharagia orang-orang yang mencintai kita. Syukuri apa yang kamu miliki hari ini, sebab kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Karena setiap sesuatu itu tidaklah sama adanya.

My Sister

Tidak ada komentar:

Posting Komentar